Playkami Kandidat Pengganti Enzo Maresca
Daftar Isi

    Chelsea Tanpa Maresca:
    3 Kandidat Pelatih Baru The Blues di 2026

    Tahun 2026 baru berjalan beberapa hari, tetapi Chelsea sudah sukses membuat timeline fans sepak bola berisik. Bukan karena transfer pemain mahal, bukan pula karena drama ruang ganti, melainkan keputusan besar: Enzo Maresca resmi dipecat. Sebuah keputusan yang, jujur saja, terasa seperti patch update dadakan di tengah turnamen besar.

    Padahal secara trofi, Maresca bukan pelatih sembarangan. Ia mempersembahkan UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub untuk The Blues. Di dunia esports, ini setara dengan menjuarai major dan langsung lanjut angkat piala dunia. Tapi di Chelsea, trofi tanpa konsistensi liga itu ibarat win streak tapi kalah di ranked penting.

    Pihak klub menyatakan bahwa perpisahan ini dilakukan demi membuka peluang terbaik bagi tim untuk kembali ke jalur utama, termasuk target krusial: zona Liga Champions. Bahasa korporatnya rapi. Terjemahan kasarnya: “kita butuh reset sebelum season makin berat.”

    Kebiasaan Lama Chelsea

    Bagi penggemar lama Chelsea, pergantian pelatih sebenarnya bukan hal baru. Namun konteks kali ini berbeda. Maresca datang membawa filosofi modern, penguasaan bola progresif, dan pendekatan yang secara teori cocok dengan skuad muda Chelsea. Masalahnya, sepak bola bukan cuma soal konsep, tapi soal eksekusi di momen krusial.

    Ketika performa liga tak kunjung stabil, manajemen Chelsea memilih jalan cepat. Risiko? Besar. Tapi di era sepak bola modern, keputusan cepat sering dianggap lebih rasional ketimbang menunggu damage makin parah. Di sinilah muncul pertanyaan utama: siapa yang paling layak menggantikan Maresca?

    Menariknya, rumor dan laporan media menyebut tiga nama dengan profil yang sangat berbeda. Dari legenda klub, pelatih muda Inggris, hingga spesialis sistem tiga bek. Mari kita bedah satu per satu di Playkami Sports, inilah tiga kandidat pengganti Maresca di Chelsea.

    1. Cesc Fabregas: Dari Maestro Lapangan ke Otak Taktik

    Playkami Cesc Fabregas

    Nama Cesc Fabregas selalu punya tempat khusus di hati fans Chelsea. Mantan gelandang elegan ini kini mencuri perhatian di Italia bersama Como. Di bawah arahannya, Como menjelma menjadi kuda hitam Serie A yang bermain berani, progresif, dan surprisingly efektif.

    Fabregas dikenal sebagai pelatih yang berani memberi ruang bagi pemain muda dan talenta kreatif. Nico Paz menjadi contoh nyata bagaimana ia memoles pemain menjadi aset bernilai tinggi. Gaya ini terasa selaras dengan DNA skuad Chelsea yang dipenuhi pemain muda mahal dengan potensi besar.

    Tren pelatih asal Spanyol yang sukses di Premier League juga menjadi faktor pendukung. Arteta, Guardiola, hingga Unai Emery membuktikan bahwa pendekatan taktik Iberia bisa sangat efektif di Inggris. Fabregas, dengan pengalaman Premier League dan pemahaman kultur Chelsea, tampak seperti pilihan yang “romantis tapi masuk akal”.

    Risikonya? Pengalaman. Melatih Chelsea bukan seperti mengelola Como. Tekanan media, ekspektasi fans global, dan jadwal padat bisa jadi ujian mental. Tapi kalau berhasil, ini bisa jadi high risk, high reward pick, persis seperti draft hero off-meta yang ternyata OP.

    2. Liam Rosenior: Pilihan “Low Profile”, Potensi Tinggi

    Playkami Liam Rosenior

    Jika mengikuti laporan jurnalis top Eropa, Liam Rosenior disebut-sebut sebagai kandidat terdepan. Namanya mungkin belum sepopuler Fabregas, tetapi pekerjaannya di Strasbourg mendapatkan banyak pujian dari internal klub Chelsea.

    Rosenior memulai karier kepelatihannya relatif baru, sejak Derby County dan kemudian Hull City. Namun, pendekatannya yang pragmatis, rapi, dan adaptif membuatnya dianggap cocok untuk proyek jangka menengah Chelsea. Ia bukan tipe pelatih dengan ego besar, sesuatu yang sering justru dibutuhkan di ruang ganti penuh bintang muda.

    Faktor kebangsaan juga berperan. Rosenior adalah pelatih Inggris dan pernah bermain untuk Fulham, klub London. Ia memahami atmosfer sepak bola Inggris, tekanan Premier League, dan dinamika media lokal. Dalam dunia esports, ini seperti coach lokal yang paham betul mental pemain region sendiri.

    Namun, skeptisisme tetap ada. Apakah pengalaman Rosenior cukup untuk klub sebesar Chelsea? Atau ia akan “terbakar” terlalu cepat? Jawabannya tergantung seberapa besar dukungan manajemen dan kesabaran fans. Dua hal yang, jujur saja, sering langka di Stamford Bridge.

    3. Oliver Glasner: Spesialis Sistem, Spesialis Piala

    Playkami Oliver Glasner

    Nama ketiga datang dengan CV paling solid secara prestasi: Oliver Glasner. Ia mengakhiri puasa gelar Crystal Palace dengan menjuarai Piala FA, lalu menambah Community Shield. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang jelas dan disiplin tinggi.

    Glasner dikenal dengan formasi tiga bek yang terstruktur. Di Palace, keterbatasan finansial membuatnya harus kreatif. Namun di Chelsea, situasinya berbeda. Dengan sumber daya lebih besar, ia berpotensi mengoptimalkan skuad dan menerapkan sistemnya secara maksimal.

    Kelebihan Glasner adalah kemampuannya membangun tim kompetitif dalam waktu relatif singkat. Untuk Chelsea yang butuh stabilitas instan demi tiket Liga Champions, ini jelas nilai plus. Kekurangannya? Gaya bermainnya tidak selalu “seksi” bagi fans yang menginginkan dominasi penuh.

    Tapi di era sepak bola modern, hasil sering lebih penting daripada estetika. Sama seperti di esports, kadang strategi defensif yang solid justru membawa tim ke podium tertinggi.

    Siapa Paling Ideal untuk Chelsea?

    Setiap kandidat membawa filosofi berbeda. Fabregas menawarkan identitas dan progresivitas, Rosenior stabilitas jangka menengah, dan Glasner hasil instan berbasis sistem. Pilihan Chelsea akan mencerminkan arah klub: membangun ulang dengan sabar atau mengejar target cepat.

    Kalau gamau ketinggalan berita paling update dari dunia sepak bola kayak gini, buruan deh join dan login ke Playkami, Platform media online terlengkap dan terpercaya.

    Menurut kamu, siapa yang paling cocok duduk di kursi panas Chelsea? Fabregas dengan sentuhan nostalgia, Rosenior dengan pendekatan modern Inggris, atau Glasner sang spesialis piala? Tulis pendapatmu, dan jangan lupa klik tombol share di bawah supaya diskusi makin rame. Sepak bola selalu lebih seru kalau dibahas bareng.

    Support PlayKami, Klik Share 👊