Daftar Isi ▾
Resmi! Chelsea Pecat Enzo Maresca Tepat di Hari Pertama Tahun 2026
Chelsea kembali membuka lembaran baru dan seperti tradisi yang sudah terlalu familiar bagi fans mereka, lembaran itu dibuka dengan keputusan besar. Kamis malam WIB (1/1/2026), The Blues secara resmi mengumumkan pemecatan Enzo Maresca. Sebuah keputusan yang langsung memicu perdebatan, mengingat sang pelatih baru saja mempersembahkan dua trofi bergengsi untuk klub London Barat tersebut.
Di era modern sepak bola, trofi biasanya menjadi mata uang paling keras. Namun di Chelsea, mata uang itu rupanya belum cukup. Ambisi utama klub musim ini tetap satu: tiket Liga Champions. Dan ketika target itu terasa goyah, sejarah membuktikan bahwa Stamford Bridge jarang memberi banyak toleransi.
Dua Trofi yang Tak Menyelamatkan
Selama berada di bawah kendali Enzo Maresca, Chelsea mencatat pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh. Gelar UEFA Conference League dan FIFA Club World Cup sukses diraih, dua trofi yang menambah lemari prestasi klub dan menegaskan bahwa proyek Maresca sempat berjalan di jalur yang benar.
Dalam pernyataan resmi klub, manajemen Chelsea mengakui kontribusi tersebut. Mereka menyebut capaian Maresca sebagai bagian penting dari sejarah modern klub. Sebuah kalimat yang terdengar manis, meski datang bersamaan dengan surat perpisahan.
Ironisnya, justru di sinilah paradoks Chelsea muncul. Trofi memang datang, tetapi konsistensi di Premier League tak kunjung stabil. Dalam kompetisi yang menuntut performa pekan demi pekan, kilau gelar Eropa tak selalu mampu menutupi lubang di liga domestik.
Target Liga Champions yang Tak Bisa Ditawar
Bagi pemilik Chelsea, finis di zona Liga Champions bukan sekadar prestasi, melainkan kebutuhan strategis. Empat kompetisi yang diikuti musim ini menuntut kedalaman skuad, stabilitas, dan ritme yang konsisten, tiga hal yang dinilai belum sepenuhnya hadir dalam periode akhir kepemimpinan Maresca.
Hasil satu kemenangan dari tujuh laga terakhir Premier League menjadi angka yang sulit dibantah. Ditambah tiga pertandingan terakhir tanpa kemenangan, tekanan pun menumpuk. Di Stamford Bridge, statistik seperti ini jarang berujung pada kesabaran jangka panjang.
Bahkan kemenangan 2-2 yang seharusnya bisa dirayakan justru berubah menjadi momen ketegangan. Sorakan kecewa dari tribun seusai hasil imbang kontra Bournemouth menjadi sinyal jelas bahwa kepercayaan publik mulai terkikis.
Retaknya Hubungan Internal
Situasi internal Chelsea juga disebut menjadi faktor penting. Hubungan Maresca dengan jajaran petinggi klub mulai memanas usai konferensi pers kontroversial setelah kemenangan atas Everton pada 13 Desember lalu. Pernyataannya soal minimnya dukungan internal menjadi api kecil yang kemudian membesar.
Di balik layar, ketegangan dengan departemen medis klub turut memperburuk keadaan. Keputusan Maresca yang beberapa kali menurunkan pemain di luar rekomendasi medis memicu gesekan serius. Dalam klub dengan struktur modern dan data-driven, hal semacam ini jarang dianggap sepele.
Masalah lain muncul ketika pihak Maresca melakukan komunikasi dengan Manchester City, klub lamanya, di tengah spekulasi masa depan Pep Guardiola. Meski Maresca melaporkan hal tersebut sesuai kontrak, Chelsea menilai situasi itu mengganggu fokus di fase krusial musim.
Bursa Pengganti: Nama Lama, Risiko Baru
Usai pemecatan ini, perhatian publik langsung tertuju pada bursa pelatih. Nama Liam Rosenior mencuat sebagai kandidat terkuat. Saat ini ia menangani Strasbourg, klub yang juga berada di bawah payung BlueCo, konsorsium pemilik Chelsea.
Rosenior dinilai memiliki visi jangka panjang dan progres yang menjanjikan. Namun tantangannya jelas: pengalaman di level elite Premier League masih minim. Tekanan di Stamford Bridge bukan sekadar soal taktik, tetapi juga manajemen ekspektasi yang brutal adalah sebuah “ujian mental” yang bahkan pelatih senior pun sering gagal lewati.
Chelsea kini dihadapkan pada dilema klasik: melanjutkan proyek jangka panjang atau kembali memilih jalan instan. Sejarah mereka belakangan ini cenderung menjawab sendiri.
Warisan Maresca di Stamford Bridge
Enzo Maresca meninggalkan Chelsea dengan dua trofi dan satu pelajaran penting: di klub ini, waktu bukanlah kemewahan. Prestasi harus datang seiring konsistensi, dan konsistensi harus hadir tanpa drama internal.
Bagi pembaca setia Playkami Sports , kisah ini menjadi potret nyata dinamika sepak bola modern, dimana tempat data, target bisnis, dan tekanan publik bertemu di satu titik.
Yang pasti, Situs Playkami akan terus menghadirkan berita sepak bola Eropa dengan informasi valid, terverifikasi, dan tercepat. Karena di tengah hiruk-pikuk rumor dan spekulasi, fakta tetap menjadi juara.
Satu hal yang tak berubah: di Chelsea, bahkan dua trofi pun belum tentu cukup. Dan di sepak bola modern, pergantian tahun kadang berarti… pergantian pelatih.